manusia terkutuk

pembaca blog ini : re, kok lama banget nggak posting yang baru?
pembaca lain : nggak juga ah, baru seminggu kok dari postingan terakhir…
gw : mungkin karena seminggu ini gw nggak pernah OL kali ya…
pembaca lain lagi : emang lu kenapa re?
gw : pembaca setiaku, gw kmaren sakit cacar.
semua pembaca : HAPAAAAAHHH???!!
gw : (menghindar dari timpukan botol kecap sambil menutup telinga supaya nggak mendengar cercaan mereka)
pembaca lain : hari gini kena cacar? 

ya pemirsa pembaca blog gw, gw kena cacar. berawal dari dua bintik menggemaskan di telapak tangan yang disertai sedikit demam. walaupun sudah demam dan berbintik imut di tangan, tetep gw kekeuh jalan2 ke pameran kompie. *memejamkan mata mengingat SPG gamutal pembagi brosur yang samping bajunya bolong*

penyakit ini emang lagi happening banget di kantor gw. lebih happening dari mbak2 pake pashmina di musim panas, dan lebih happening daripada konsernya biyonse. mungkin popularitas cacar di kantor gw hanya bisa disaingi oleh dewi persik dan saiful jamil yang mulai pura2 ga kenal di infotainment.

setelah minum obat dari dokter, si dua bintik menggemaskan mendapat teman2 baru, yaitu bintik2 di leher, bintik2 di dada, bintik2 di punggung, dan bintik2 di muka yang jumlahnya tak lagi menggemaskan, tapi menjijikan.

oh, gw bahkan merinding ketika mandi dan mengusap kulit muka dan punggung gw sendiri. rasanya semua sopir bus antar kota dan sopir truk dengan gambar gadis penakluk di belakang truknya pasti akan memilih jalur pantura dibanding kulit gw karena pantura lebih mulus dibanding kulit gw. supir truk yang truknya ada gambar kutunggu jandamu juga pasti melakukan hal yang sama.

pembaca blog ini : biasanya juga emang kulit lu kayak kulit badak kan re?
gw : (pura pura ga denger)

ah, mungkin ini mengapa jaman dahulu ketika cacar belum ada obatnya, orang2 menganggap cacar adalah penyakit kutukan Tuhan, dan pengidapnya adalah seorang pendosa. seorang manusia terkutuk!!! ya itulah gw sekarang. *sigh, muka siganteng will never be the same again*

 

walaupun begitu, gw bersyukur gw sakit cacar. artinya seumur hidup gw ke depan, gw nggak akan dihantui rasa takut “aaaahh, jauh2 lo sana, gw kan belom pernah cacar… dst dst” ketika ada teman, kolega, atau siapa pun di sekitar gw yang kena cacar. gw juga bangga, karena Louis XV meninggal karena sakit cacar. selain itu gw juga merasa gw sudah ikut ‘tren’ sakit cacar yang lagi happening banget di kantor.

(adegan di film2 barat. lokasi : di sebuah bar)
pria 1 : (mabuk) yeahhh… untuk kesuksesan bisnis kita!!
pria 2 : (lebih mabuk) yeahhhh… kita jadi orang KAYA !!! PERHATIAN SEMUANYA… semua yg ada di bar ini saya traktir minum!!!
pengunjung bar : hore hore!

ya, seperti itulah wujud bersyukur yang ingin gw lakukan di hari pertama gw boleh kembali masuk kantor. cuman berhubung gw bukan anak bar, maka hal itu gw wujudkan dengan membayarin ongkos penumpang satu bis patas AC 05 bekasi-blok m yang biasa gw naikin. kira2 Rp 5.500,- kali sekian penumpang. mudah bukan??? begitu naik bis, gw akan berkata dengan lantang dan optimis “penumpang yang berbahagia, saya sedang bersukacita. ongkos kalian pagi ini, saya yang tanggung!!”

sekian postingan kali ini. terimakasih buat semuanya yang mendukung gw selama gw bete di rumah selama sakit. buat mas lucky, paguru dan buguru, ka iren, serta teh anggun. terimakasih kalian semua nelpon dan menghibur. 

terimakasih juga buat tips2 cacar dari astridlovejacksparrow, semuatewas, mas boy, saint pooney, dan mbak ani. juga buat yang kerepotan selama gw nggak ada, msb, bayu, togaretta, dan temen2 FKOC.

terimakasih juga buat dokter gunawan dan susternya yang sigap membuka kaos gw, dokter maria yang seksi, juga buat mbak ii, saya akan berusaha lagi mbak, mas tamam, yang sudah saya anggap bapak saya sendiri di asrama, mas ari tulang, saya akan terus berlatih koreo mas! teman2 di asrama, mawar, kia, smile, dicky jangan nangis lagi ya, juga semua wartawan, tanpa kalian saya bukan siapa-siapa…

Advertisements

sedihnya putus

seorang temen yang udah gw kenal dari lahir nelepon gw di sabtu pagi yang cerah.

penelepon : “hoi, lagi di mana lu?”
gw : lagi di slipi, nginep tempat temen gw
penelepon : oh jauh ya…. ya udah deh
gw : emangnya napa?
penelepon : (terisak-isak) gapapah…
gw : serius lu gapapa???
penelepon : gw semalem diputusin… (terisak isak seraya menggelinjang)
gw : ya udah gw ke sana….

yang namanya putus itu menurut gw membawa hasil yang seperti dua sisi. yang sering gw lihat (atau alami- ceileh). misalnya yang satu merasa lega ‘terbebas’ dari yang lain, sementara yang satu bener2 down kehilangan ‘kepemilikan’ atas orang yang dia sayang.

kadang ketika kita memiliki sesuatu, kita tuh nggak pernah bersyukur untuk itu. nggak pernah juga sadar betapa pentingnya apa yang kita miliki itu, sehingga kadang apa yang kita miliki nggak pernah kita hargai.

(di sekolah minggu)
guru sekolah minggu : “adik2, kita mesti bersyukur sama Tuhan, karena kita dikasih oksigen gratisss untuk nafas. coba kalo tiba2 kita nggak dikasih oksigen? pasti nggak bisa idup. iya kan adik-adik?”
adik2 yg lugu : “iya kaaaak….”

ya, emang kadang sesuatu yang kita miliki harus diambil dulu dari kita, baru kita akan merasa kehilangan hal tersebut. seperti hal nya temen gw tadi, yang nggak pernah menghargai pacarnya lalu tiba2 diputusin…. (ooops)

pembaca blog ini : terus emang lu baru putus? makanya cerita begini ??
gw : sabar dong, makanya ini gw mau cerita

pembaca setia rerere.wordpress.com, gw baru putus seminggu lalu. tepatnya ketika gw ke jogja untuk yang ke dua kali nya…
kejadiannya ketika gw di bandara adisucipto pas gw mau balik ke jakarta. dengan memanggul backpack besar dan seplastik bakpia, gw turun dari mobil memasuki bandara, dan tiba2 aja …
(jreng jreng jreng….dramatic music)
sendal gw putus….

oh sungguh memalukan. putus nya didepan para kasi dan para kasubdit (biar kesannya banyak gw sebut para).
sungguh, gw ga mungkin beli sendal hanya untuk dipake pulang, karena ngga ada juga yang jual, secara waktunya juga udah mepet harus check in.

akhirnya gw menukar sendal gw dengan sepatu kulit model resmi yang ada di tas. untung lah, saat itu nggak ada polisi2 fashion yang sering mempertontonkan orang2 yang salah berbusana (cacat fashion kata mereka) yang melihat jeans belel bgt dan kaos ala kadarnya berpadu dengan sepatu item ala kantoran.

sungguh, gw merasa kehilangan sendal gw. gw inget banget, belinya sama adek gw, ketika lagi jalan2 terus ada sendal yang diskon 70%. karena harganya murah, walopun modelnya nggak sreg, ya udah dibeli aja, secara lagi nggak punya sendal. mungkin karena modelnya yang kurang sreg dan harganya yang istilah ekonominya “pengorbanan yang kecil”… gw jadi ga gitu menghargai itu sendal.

(pelajaran ilmu ekonomi di sma)
guru : “prinsip ekonomi itu…mendapatkan untung sebesar2nya dari pengorbanan sekecil2nya”
gw dan murid2 lain : (manggut2 setuju)

akhirnya semua aktivitas gw sekarang yang biasanya melibatkan sang sendal andalan, di temani oleh sendal jepit bokap. and i dont know why, gw merasa lebih keren dan lebih cool dengan sendal jepit swallow merah itu.

kayaknya tampang gw yang sebelas duabelas dengan ben affleck (menurut gw) atau tampang wilson idol (menurut salah satu kolega), berpadu dengan sendal jepit butut, menghasilkan sesuatu yang kontras dan indah. ibarat warna sekunder berpadu dengan warna primer di seberangnya dalam lingkaran warna.

kesimpulan:
– hargailah barang2 anda
– barang murah juga bisa bikin anda tampil keren (dengan catatan casing anda harus keren juga)
– buat yang punya pacar pikir2 dulu kalo mau putus.

rerere sandal in loving memory